Selasa, 30 Agustus 2022

Delapan Tahun Dua Bulan

Delapan tahun dua bulan, bukan durasi kehamilan. Delapan tahun dua bulan durasi dimana ternyata saya hiatus dari dunia per-ketikan di ranah maya. Delapan tahun dua bulan hampir mirip dengan durasi dimana saya terakhir menulis kisah saya mendapatkan istri saya, yang di tulisan sebelumnya saya berencana ceritakan perjalanannya dengan runut karena saya merasa keren dan bisa dibanggakan, tapi ternyata....ah sudahlah, sampeyan semua bisa menjawabnya. Tentunya banyak sekali alasan, ribuan? engga, engga selebay itu.

Sekarang, delapan tahun dua bulan setelah tulisan terakhir, saya dan istri saya, yang awalnya kami berdua akhirnya sekarang menjadi kami bertiga. Delapan tahun dua bulan adalah durasi yang mirip dengan durasi saya dan istri saya menunggu rejeki keturunan dari Allah, tepatnya delapan tahun sebelas bulan lima hari, kami diberi karunia keturunan atas pernikahan saya dan istri saya.

Jadi kenapa saya harus nge-spill kosakata keturunan? ya niatnya sih saya pengen cerita gitu ke teman-teman semua, bagaimana usaha saya dan istri yang mungkin bisa kami share dan memberi semangat buat teman-teman yang sedang berusaha dan berjuang diberikan buah hati oleh Allah.

Kaku rasanya lama tak menulis, tapi ya gimana lagi, semoga nantinya sih pesennya tersampaikan.

Kamis, 26 Juni 2014

Jodoh, harus diperjuangkan! (Part 1)


Mungkin kalimat ini sering didengar dan bahkan berlaku untuk semuanya. Termasuk saya. Iya, karena saya juga mengalaminya. Mengalami bagaimana harus memperjuangkan sebuah pilihan dalam hidup. Bukan pilihan yang enteng, karena kalau pesan orang tua kan harus menimbang bibit, bebet, sama bobotnya.walaupun saya ngga ngerti artinya apa, tapi saya berusaha menakar dan menimbang 3 hal yang tidak saya pahami dengan benar.
Yang namanya jodoh memang tidak bisa ditebak, “apa”, “siapa” dan “dimana” ketemunya. Sebentar, pertanyaan “apa” kayaknya tidak perlu saya utarakan sebenernya, karena pastinya saya memilih golongan jenis manusia berkelamin wanita, bukan hewan bercangkang yang saya pilih. Ngga mungkin kan saya berkembang biak dengan hewan bercangkang.
Saya berkenalan dengan mantan pacar saya secara kebetulan. Ketika itu saya ada tugas SPPD ke kantor unit dimana mantan pacar saya itu bertugas. Sejak perkenalan singkat yang sebenernya tak bikin saya kenal beliau, kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi. Yang saya inget hanya, ada juga cewek cakep di pedalaman, “bathin saya”.
Beberapa bulan selanjutnya, akhirnya saya ketemu dengan beliau lagi di acara kumpulan temen-temen rantau di mess perusahaan yang sebenernya lebih layak disebut tempat penampungan, bukan mess. Kalau tidak salah bulan april 2012 saya bertemu lagi dengan beliau, dan akhirnya saling kontak. Saya telusuri informasinya, eh udah punya cowok yang kelak tidak menjadi suaminya namun sedang membahagiakanya waktu itu. Saya tak patah arang, saya mencari informasi lebih lanjut lagi tentang beliau. Ahaaa…informasi terbaru yang saya dapat adalah, ‘kayaknya hubunganya lagi renggang deh sama cowoknya’ dari salah satu temen cewek saya.
Seiring kami sering saling kontak, saya jadi semakin dalam lebih tahu sosok beliau. Memang beliau sudah punya pacar yang tidak menjadi suaminya itu, dan sedang dirundung galau. Apa penyebabnya? Saya tidak bisa menceritakannya, karena sedikit personal terhadap tersangka, eh maksudnya pacarnya itu yang membuat mereka sangat berat untuk bisa melanjutkan hubungan, baik sebagai pacar maupun yang lebih lanjut. Dan salah satu factor mungkin juga adalah LDR, Long dick reduction…eh bukan, Long distance relationship. Pacarnya di Jawa dan beliau beberapa derajat di belahan bumi lain.
Saya memang mengenal beberapa wanita, tapi entah kenapa saya yakin beliaulah orangnya. Sekitar dua bulan berjalan, saya memastikan ke beliau..bahwa saya percaya beliau lah orang yang saya cari. Jawabanya simple, “saya tidak tau jodoh saya siapa dari Allah, ketika ada orang berniat baik mengajak saya menikah, insyaAllah saya bersedia”. Jawaban ini sebenernya bikin saya pengen cuci darah, kenapa? Karena jawaban ini lebih susah daripada memahami jawaban soal integral di kalkulus dasar maupun lanjutan. Aku kudu piye dab?
Beberapa waktu saya menjadi sedikit dan semakin religious. Alasanya adalah saya pengen dapet jawaban dari pertanyaan saya, “apa bener dia sih? Kalo engga gimana? Nyesel engga entar?” *tolong Baim ya Allah*
Toh pada akhirnya saya harus  menentukan sikap juga. Saya harus lanjut dengan kondisi saya ‘menelikung’ pacar orang yang akhirnya tidak menjadi istrinya. “ah tak apalah, jika memang ini jodoh saya, Allah akan melancarkannya” gumam saya.
 

Rabu, 05 Maret 2014

Semoga..

Hidup di perantauan itu memang sering bikin galau. Apalagi kalau bukan masalah keluarga. Bertahun-tahun hidup bareng lalu tiba-tiba jauh dari keluarga, orang tua terutama, memang membuat seegala sesuatu berbeda. Ya saya memang sudah belajar hidup merantau semenjak kuliah dulu. Tapi saya nganggepnya sih ngga merantau, lha wong deket jaraknya, bisa ditempuh cuman 3 jam dari tempat kuliah ke rumah.

Setelah lulus kuliah, akhirnya dapat kerja pas beberapa minggu sebelum wisuda, akhirnya saya menyambangi nasib saya yang harus merantau untuk mendapatkan rejeki.

Makassar, sudah 3 tahun lebih saya disini dan masih saja timbul perasaan homesick yang teramat sangat. Padahal saya juga sudah menikah dan istri saya pun sama nasibnya, bahkan mungkin kata banyak orang 'nasibnya lebih apes' daripada saya. Istri saya bertugas di kabupaten yang jaraknya sekitar 4 jam dari Makassar

Di kantor saya pun banyak teman-teman yang merantau. Dan bahkan lucunya, di kantor malah sering menggunakan bahasa daerah yang kata bos saya malah "ini kantor kok kayak pasar johar". Saya hanya terkekeh mendengarnya. :D

Walaupun banyak teman dengan 'protokol komunikasi' yang sama, itu tidak menyurutkan tingkat galau akan homesick. Lha ya sekarang siapa yang nda mau kumpul sama keluarga besar.

Tak sedikit dari teman-teman yang mengajukan pindah atau mutasi. Alasannya klasik dan retorik, pengen dekat orang tua.

Buat saya alasan ini wajar. Karena saya sendiri juga sering merasakan dahsyatnya kalau lagi dirundung galau. Ampun-ampunan lah.

Nah, cara lain untuk bisa mutasi bagi kami adalah dengan kerja bagus tentunya. Biasanya kalau kerja kita bagus, diliat manajemen atas, lalu ditarik atau mutasi ke kantor regional atau bahkan yang lebih beruntung bisa kembali ke daerah kita langsung.

Namun kerja baik bukan syarat mutlak untuk bisa ditarik, syarat yang lainnya masih menunggu. apa itu? lolos butuh atau manajemen unit kita mau melepas kita. Ini yang agak susah. Lha sekarang siapa yang mau anak buahnya yang keren dan pinter ditarik ke tempat lain. Pasti kan nda mau! analoginya kaya sampeyan punya motor, trus ban motornya itu bagus dan nyaman dipake. Kakak anda mau minta tuh ban motor, diganti ban yang biasa-biasa saja, ya kan ndak mau tho sampeyan?! kecuali kalo anda orang baik dan melihatnya gini, kan dipake buat motor kaka saya, toh misal nanti dipake kakak saya keluar, orang lain liat, disanjung, yang kena sanjungan kan juga keluarga saya juga. Jyaaaan..saya dan temen-temen nyari manajemen yang bisa melihat sesuatu kaya gini. Malaikat bener kalau ini..sumpah!

Doa saya juga seperti itu, saya bener-bener berdoa untuk istri saya yang sekarang sedang berusaha keras untuk bisa mutasi ke Makassar. Kebetulan istri saya itu di unitnya kerjanya bagus dan dilirik untuk menggantikan personal di kantor regional yang mutasi ke tempat lain. Saya senang dan bangga dengan predikat istri saya itu, selama dia nda lupa kalau suaminya saya sih. Sudah beberapa minggu bahkan bulan proses masih berjalan. Biasa sih, namanya juga kantor besar pastinya butuh manajemen SDM yang tepat untuk mem-plot SDM di tiap-tiap tempat. Dan harapan saya sih cuman tadi itu, semoga manajemen unit istri saya bersedia melepas dan manajemen unit yang dituju bisa secepatnya menerbitkan SK mutasi untuk segera bergabung.

Lha ya harapan saya ya semoga bisa segera bareng sama istri saya di Kota besar ini. Kadang ngenes-nya itu kepikiran, "mosok wis merantau kok yo sih LDR karo Bojo"

Obat saya saat ini untuk menghilangkan galau ya harapan saya ini. Semoga harapan ini menjadi doa, dan doa saya di 'ijabah sama Allah SWT. Aamiin.

Rabu, 11 Desember 2013

11.12.13

"eh, hari ini tanggalnya cantik!!!"
hmmm...harapan saya sih tanggalnya mirip Raline shah, tapi ternyata tetap berbentuk angka berwarna hitam legam tanpa ada lipstik atau bedak yang menempel.

Ah sudahlah, daripada saya berharap banyak dengan tanggal cantik yang ternyata cuma PHP sama ekspektasi saya, ternyata hari ini memang rasanya merupakan salah satu hari keberuntungan saya. Kenapa beruntung? jadi menurut pakar Luckynology, rumusnya begini: keberuntungan itu identik dengan mendapat rejeki, rejeki itu salah satunya berupa materi, dan ketika mendapat rejeki berupa materi itu jadi keberuntungan buat saya, artinya saya lagi kere! begitulah. :|

Kondisi seperti ini membuat saya teringat waktu kuliah, saat uang jatah bulanan sudah menipis, apa yang saya lakukan? Kampus, kos, tidur, makan waktu 'brunch', beli air galon, kalo laper lagi minum air galon, tidur lagi, atau main game biar amnesia sesaat sama laper. Ya mau diapa lagi, lha wong memang jatah dari orang tua pas untuk makan sebulan tanpa menghitung biaya lain-lain untuk hal-hal yang berhubungan sama kampus. Tapi syukurnya saya sedikit pintar, sedikit banget. Dulu saya suka ikut kegiatan BEM kampus. Karena kegiatan BEM banyak, jadi suka ada rapat dan sesuai dengan harapan yang paling dalam...ada snack waktu rapat. Itu rejeki bro!

Lha kalo sekarang? kan udah kerja? masak iya, masih kepepet sama jatah bulanan?

Ya gitu emang. Ngga tau ya, saya juga bingung...kok bisa gitu.

Tapi yang namanya rejeki itu memang kemana-mana. Serius! Saya diem aja, rejeki nyamperin sendiri. Ada temen di lantai 1 naik ke ruangan saya, ngobrol..eh temen nraktir makan, kurang ganteng apa cobak? Heheheeemang, Tuhan itu tau hambaNya yang masih kurus ini. :D

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selesai makan, lanjutin kerjaan lagi. Kerjaan 'khusus' dari manajer ke saya buat bikin paper sama bahan presentasi. Udah ngerjain ini 3 bulan. Lha..kok lama? iya, soalnya ngerjain di lapangan dulu baru bikin laporan sama papernya. Jadi selama beberapa bulan kemarin 'hardwarenya' sama sekalian buat evidence-nya, nah sekarang tinggal buat papernya aja.

"kriiiiing...." bunyi telepon.
"halo..." Mba aini mengangkat telepon.
"........"
"abe dipanggil manajer" ucap mba aini.

"Jangkriiiiik!!! dipanggil manajer, belum selesai lagi tugas-tugasnya" seketika mata berkunang-kunang, udah laper lagi. :|

Saya naik ke ruangan manajer, dan akhirnya..
"abe...ini, ayo...makan dulu" ucap manajer.

"speechless..."
"termenung"

bener-bener pengen nangis, karena susah nolak kalo ditawarin makan gratis gini.

fyuf....

Dunia terasa begitu indah, sama seperti hari ini, tanggal 11-12-13. Cantik kan tanggalnya? :p

Selasa, 10 Desember 2013

Ah, akhirnya punya (lagi).

Ada yang menggelitik dikepala ketika dulu suka senyum sendiri didepan layar laptop yang memendarkan balik roman muka saya yang kebetulan dulu sempat ganteng dan akhirnya bertahan sampai sekarang. Ada perasaan yang campur aduk seperti sinetron ketika dulu senyum sendiri ketika mendengar alunan musik keyboard laptop yang ternyata tertekan oleh jari-jari yang mirip jari cewek.

itu cerita dulu...

cerita yang sekarang mungkin akan berbeda, mungkin juga akan sama. Untungnya saya ngga mau mikir berat masalah itu, saya hanya pengen ngeblog lagi, nulis lagi, yang ternyata saya sadar bahwa nama blog yang baru mengandung unsur SARA buat saya sendiri. Tak apalah...toh cuma judulnya yang botak...saya nya hampir. :D

Dan entah kenapa tercetak kosakata suami di judulnya, padahal itu kata orang (berkelamin laki-laki) bisa menurunkan prestise laki-laki di mata cewek tapi untungnya itu tidak berlaku buat saya walaupun sebenarnya saya tidak punya prestise dimata cowok, apalagi cewek.

 Beberapa waktu saya mencoba meluangkan waktu untuk bisa nulis blog secara intens walaupun hanya satu semester sekali tapi ternyata memang bukan jodohnya. Blog lama di yanuardhiabe.com sudah berubah dan memiliki kekasih yang baru. saya hanya bisa mendoakan semoga menjadi pasangan yang cocok buat yanuardhiabe.com dan yang menggunakannya.

Yang membuat saya heran, sampai sekarang blog itu membuat saya terharu, benar-benar terharu karena selalu menampilkan tulisan yang tidak bisa saya membacanya. Sepemahaman saya, dia mengungkapkan rasa terimakasih banyak kepada saya karena sudah sempat mengurusnya selama beberapa tahun. Itu pemahaman pribadi saya sendiri dan jangan ditiru. Arti sesungguhnya tulisan di blog itu, saya tidak tahu sejujurnya.

 fotonya ngambil dari sini

Sebenarnya saya tidak ingin bernostalgia dengan blog, katanya kalo nostalgia bikin ngga bisa move on, pun nanti hanya bertahan sebentar. Kaaatanyaaa. Saya cuma pengen menjalin hubungan baru yang dipenuhi rasa penuh cinta antara saya dan istri saya. Blog? semoga blog tidak menjadi orang ke tiga dalam hidup saya. amin.