Kamis, 26 Juni 2014

Jodoh, harus diperjuangkan! (Part 1)


Mungkin kalimat ini sering didengar dan bahkan berlaku untuk semuanya. Termasuk saya. Iya, karena saya juga mengalaminya. Mengalami bagaimana harus memperjuangkan sebuah pilihan dalam hidup. Bukan pilihan yang enteng, karena kalau pesan orang tua kan harus menimbang bibit, bebet, sama bobotnya.walaupun saya ngga ngerti artinya apa, tapi saya berusaha menakar dan menimbang 3 hal yang tidak saya pahami dengan benar.
Yang namanya jodoh memang tidak bisa ditebak, “apa”, “siapa” dan “dimana” ketemunya. Sebentar, pertanyaan “apa” kayaknya tidak perlu saya utarakan sebenernya, karena pastinya saya memilih golongan jenis manusia berkelamin wanita, bukan hewan bercangkang yang saya pilih. Ngga mungkin kan saya berkembang biak dengan hewan bercangkang.
Saya berkenalan dengan mantan pacar saya secara kebetulan. Ketika itu saya ada tugas SPPD ke kantor unit dimana mantan pacar saya itu bertugas. Sejak perkenalan singkat yang sebenernya tak bikin saya kenal beliau, kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi. Yang saya inget hanya, ada juga cewek cakep di pedalaman, “bathin saya”.
Beberapa bulan selanjutnya, akhirnya saya ketemu dengan beliau lagi di acara kumpulan temen-temen rantau di mess perusahaan yang sebenernya lebih layak disebut tempat penampungan, bukan mess. Kalau tidak salah bulan april 2012 saya bertemu lagi dengan beliau, dan akhirnya saling kontak. Saya telusuri informasinya, eh udah punya cowok yang kelak tidak menjadi suaminya namun sedang membahagiakanya waktu itu. Saya tak patah arang, saya mencari informasi lebih lanjut lagi tentang beliau. Ahaaa…informasi terbaru yang saya dapat adalah, ‘kayaknya hubunganya lagi renggang deh sama cowoknya’ dari salah satu temen cewek saya.
Seiring kami sering saling kontak, saya jadi semakin dalam lebih tahu sosok beliau. Memang beliau sudah punya pacar yang tidak menjadi suaminya itu, dan sedang dirundung galau. Apa penyebabnya? Saya tidak bisa menceritakannya, karena sedikit personal terhadap tersangka, eh maksudnya pacarnya itu yang membuat mereka sangat berat untuk bisa melanjutkan hubungan, baik sebagai pacar maupun yang lebih lanjut. Dan salah satu factor mungkin juga adalah LDR, Long dick reduction…eh bukan, Long distance relationship. Pacarnya di Jawa dan beliau beberapa derajat di belahan bumi lain.
Saya memang mengenal beberapa wanita, tapi entah kenapa saya yakin beliaulah orangnya. Sekitar dua bulan berjalan, saya memastikan ke beliau..bahwa saya percaya beliau lah orang yang saya cari. Jawabanya simple, “saya tidak tau jodoh saya siapa dari Allah, ketika ada orang berniat baik mengajak saya menikah, insyaAllah saya bersedia”. Jawaban ini sebenernya bikin saya pengen cuci darah, kenapa? Karena jawaban ini lebih susah daripada memahami jawaban soal integral di kalkulus dasar maupun lanjutan. Aku kudu piye dab?
Beberapa waktu saya menjadi sedikit dan semakin religious. Alasanya adalah saya pengen dapet jawaban dari pertanyaan saya, “apa bener dia sih? Kalo engga gimana? Nyesel engga entar?” *tolong Baim ya Allah*
Toh pada akhirnya saya harus  menentukan sikap juga. Saya harus lanjut dengan kondisi saya ‘menelikung’ pacar orang yang akhirnya tidak menjadi istrinya. “ah tak apalah, jika memang ini jodoh saya, Allah akan melancarkannya” gumam saya.
 

Rabu, 05 Maret 2014

Semoga..

Hidup di perantauan itu memang sering bikin galau. Apalagi kalau bukan masalah keluarga. Bertahun-tahun hidup bareng lalu tiba-tiba jauh dari keluarga, orang tua terutama, memang membuat seegala sesuatu berbeda. Ya saya memang sudah belajar hidup merantau semenjak kuliah dulu. Tapi saya nganggepnya sih ngga merantau, lha wong deket jaraknya, bisa ditempuh cuman 3 jam dari tempat kuliah ke rumah.

Setelah lulus kuliah, akhirnya dapat kerja pas beberapa minggu sebelum wisuda, akhirnya saya menyambangi nasib saya yang harus merantau untuk mendapatkan rejeki.

Makassar, sudah 3 tahun lebih saya disini dan masih saja timbul perasaan homesick yang teramat sangat. Padahal saya juga sudah menikah dan istri saya pun sama nasibnya, bahkan mungkin kata banyak orang 'nasibnya lebih apes' daripada saya. Istri saya bertugas di kabupaten yang jaraknya sekitar 4 jam dari Makassar

Di kantor saya pun banyak teman-teman yang merantau. Dan bahkan lucunya, di kantor malah sering menggunakan bahasa daerah yang kata bos saya malah "ini kantor kok kayak pasar johar". Saya hanya terkekeh mendengarnya. :D

Walaupun banyak teman dengan 'protokol komunikasi' yang sama, itu tidak menyurutkan tingkat galau akan homesick. Lha ya sekarang siapa yang nda mau kumpul sama keluarga besar.

Tak sedikit dari teman-teman yang mengajukan pindah atau mutasi. Alasannya klasik dan retorik, pengen dekat orang tua.

Buat saya alasan ini wajar. Karena saya sendiri juga sering merasakan dahsyatnya kalau lagi dirundung galau. Ampun-ampunan lah.

Nah, cara lain untuk bisa mutasi bagi kami adalah dengan kerja bagus tentunya. Biasanya kalau kerja kita bagus, diliat manajemen atas, lalu ditarik atau mutasi ke kantor regional atau bahkan yang lebih beruntung bisa kembali ke daerah kita langsung.

Namun kerja baik bukan syarat mutlak untuk bisa ditarik, syarat yang lainnya masih menunggu. apa itu? lolos butuh atau manajemen unit kita mau melepas kita. Ini yang agak susah. Lha sekarang siapa yang mau anak buahnya yang keren dan pinter ditarik ke tempat lain. Pasti kan nda mau! analoginya kaya sampeyan punya motor, trus ban motornya itu bagus dan nyaman dipake. Kakak anda mau minta tuh ban motor, diganti ban yang biasa-biasa saja, ya kan ndak mau tho sampeyan?! kecuali kalo anda orang baik dan melihatnya gini, kan dipake buat motor kaka saya, toh misal nanti dipake kakak saya keluar, orang lain liat, disanjung, yang kena sanjungan kan juga keluarga saya juga. Jyaaaan..saya dan temen-temen nyari manajemen yang bisa melihat sesuatu kaya gini. Malaikat bener kalau ini..sumpah!

Doa saya juga seperti itu, saya bener-bener berdoa untuk istri saya yang sekarang sedang berusaha keras untuk bisa mutasi ke Makassar. Kebetulan istri saya itu di unitnya kerjanya bagus dan dilirik untuk menggantikan personal di kantor regional yang mutasi ke tempat lain. Saya senang dan bangga dengan predikat istri saya itu, selama dia nda lupa kalau suaminya saya sih. Sudah beberapa minggu bahkan bulan proses masih berjalan. Biasa sih, namanya juga kantor besar pastinya butuh manajemen SDM yang tepat untuk mem-plot SDM di tiap-tiap tempat. Dan harapan saya sih cuman tadi itu, semoga manajemen unit istri saya bersedia melepas dan manajemen unit yang dituju bisa secepatnya menerbitkan SK mutasi untuk segera bergabung.

Lha ya harapan saya ya semoga bisa segera bareng sama istri saya di Kota besar ini. Kadang ngenes-nya itu kepikiran, "mosok wis merantau kok yo sih LDR karo Bojo"

Obat saya saat ini untuk menghilangkan galau ya harapan saya ini. Semoga harapan ini menjadi doa, dan doa saya di 'ijabah sama Allah SWT. Aamiin.