Delapan tahun dua bulan, bukan durasi kehamilan. Delapan tahun dua bulan durasi dimana ternyata saya hiatus dari dunia per-ketikan di ranah maya. Delapan tahun dua bulan hampir mirip dengan durasi dimana saya terakhir menulis kisah saya mendapatkan istri saya, yang di tulisan sebelumnya saya berencana ceritakan perjalanannya dengan runut karena saya merasa keren dan bisa dibanggakan, tapi ternyata....ah sudahlah, sampeyan semua bisa menjawabnya. Tentunya banyak sekali alasan, ribuan? engga, engga selebay itu.
Sekarang, delapan tahun dua bulan setelah tulisan terakhir, saya dan istri saya, yang awalnya kami berdua akhirnya sekarang menjadi kami bertiga. Delapan tahun dua bulan adalah durasi yang mirip dengan durasi saya dan istri saya menunggu rejeki keturunan dari Allah, tepatnya delapan tahun sebelas bulan lima hari, kami diberi karunia keturunan atas pernikahan saya dan istri saya.
Jadi kenapa saya harus nge-spill kosakata keturunan? ya niatnya sih saya pengen cerita gitu ke teman-teman semua, bagaimana usaha saya dan istri yang mungkin bisa kami share dan memberi semangat buat teman-teman yang sedang berusaha dan berjuang diberikan buah hati oleh Allah.
Kaku rasanya lama tak menulis, tapi ya gimana lagi, semoga nantinya sih pesennya tersampaikan.