Hidup di perantauan itu memang sering bikin galau. Apalagi kalau bukan masalah keluarga. Bertahun-tahun hidup bareng lalu tiba-tiba jauh dari keluarga, orang tua terutama, memang membuat seegala sesuatu berbeda. Ya saya memang sudah belajar hidup merantau semenjak kuliah dulu. Tapi saya nganggepnya sih ngga merantau, lha wong deket jaraknya, bisa ditempuh cuman 3 jam dari tempat kuliah ke rumah.
Setelah lulus kuliah, akhirnya dapat kerja pas beberapa minggu sebelum wisuda, akhirnya saya menyambangi nasib saya yang harus merantau untuk mendapatkan rejeki.
Makassar, sudah 3 tahun lebih saya disini dan masih saja timbul perasaan homesick yang teramat sangat. Padahal saya juga sudah menikah dan istri saya pun sama nasibnya, bahkan mungkin kata banyak orang 'nasibnya lebih apes' daripada saya. Istri saya bertugas di kabupaten yang jaraknya sekitar 4 jam dari Makassar
Di kantor saya pun banyak teman-teman yang merantau. Dan bahkan lucunya, di kantor malah sering menggunakan bahasa daerah yang kata bos saya malah "ini kantor kok kayak pasar johar". Saya hanya terkekeh mendengarnya. :D
Walaupun banyak teman dengan 'protokol komunikasi' yang sama, itu tidak menyurutkan tingkat galau akan homesick. Lha ya sekarang siapa yang nda mau kumpul sama keluarga besar.
Tak sedikit dari teman-teman yang mengajukan pindah atau mutasi. Alasannya klasik dan retorik, pengen dekat orang tua.
Buat saya alasan ini wajar. Karena saya sendiri juga sering merasakan dahsyatnya kalau lagi dirundung galau. Ampun-ampunan lah.
Nah, cara lain untuk bisa mutasi bagi kami adalah dengan kerja bagus tentunya. Biasanya kalau kerja kita bagus, diliat manajemen atas, lalu ditarik atau mutasi ke kantor regional atau bahkan yang lebih beruntung bisa kembali ke daerah kita langsung.
Namun kerja baik bukan syarat mutlak untuk bisa ditarik, syarat yang lainnya masih menunggu. apa itu? lolos butuh atau manajemen unit kita mau melepas kita. Ini yang agak susah. Lha sekarang siapa yang mau anak buahnya yang keren dan pinter ditarik ke tempat lain. Pasti kan nda mau! analoginya kaya sampeyan punya motor, trus ban motornya itu bagus dan nyaman dipake. Kakak anda mau minta tuh ban motor, diganti ban yang biasa-biasa saja, ya kan ndak mau tho sampeyan?! kecuali kalo anda orang baik dan melihatnya gini, kan dipake buat motor kaka saya, toh misal nanti dipake kakak saya keluar, orang lain liat, disanjung, yang kena sanjungan kan juga keluarga saya juga. Jyaaaan..saya dan temen-temen nyari manajemen yang bisa melihat sesuatu kaya gini. Malaikat bener kalau ini..sumpah!
Doa saya juga seperti itu, saya bener-bener berdoa untuk istri saya yang sekarang sedang berusaha keras untuk bisa mutasi ke Makassar. Kebetulan istri saya itu di unitnya kerjanya bagus dan dilirik untuk menggantikan personal di kantor regional yang mutasi ke tempat lain. Saya senang dan bangga dengan predikat istri saya itu, selama dia nda lupa kalau suaminya saya sih. Sudah beberapa minggu bahkan bulan proses masih berjalan. Biasa sih, namanya juga kantor besar pastinya butuh manajemen SDM yang tepat untuk mem-plot SDM di tiap-tiap tempat. Dan harapan saya sih cuman tadi itu, semoga manajemen unit istri saya bersedia melepas dan manajemen unit yang dituju bisa secepatnya menerbitkan SK mutasi untuk segera bergabung.
Lha ya harapan saya ya semoga bisa segera bareng sama istri saya di Kota besar ini. Kadang ngenes-nya itu kepikiran, "mosok wis merantau kok yo sih LDR karo Bojo"
Obat saya saat ini untuk menghilangkan galau ya harapan saya ini. Semoga harapan ini menjadi doa, dan doa saya di 'ijabah sama Allah SWT. Aamiin.